...3 pOinT...

“Aaah… rasanya hari ini, hari sialku”

Aku masuk ke kamar

Bruuuk!!

Lalu menghempaskan badan ke tempat tidur.

Di sekolah tadi sangat membosankan. Apa lagi saat pelajaran olahraga Masa pak guru bilang,”Anak-anak nanti ambil nilai semester dua ini bapak akan ambil nilai basket yaitu shoot three point

Itukan sangat menyebalkan, padahal pak guru tahu kalau aku tingginya hanya 140 cm. Bagaimana caranya aku bisa memasukan bola dengan jarak sejauh itu. Saat aku protes sama pak guru dengan berkata, “Pak, saya kan pendek bagaimana caranya saya dapat memasukan bola “.

Tapi pak guru hanya bilang,”Bintang, makanya bapak bilangi dari sekarang agar kamu dapat latihan dari sekarang”. Sangat menyebalkan apalagi dia bilangnya sambil tertawa dan teman-teman juga pada tertawa seolah-olah aku ini adalah kurcaci yang nyasar dan dikertawai oleh orang-orang. Oh tuhan, apa yang akan kulakukan agar aku bisa memasukan bola kedalam ranjang dan tidak dikertawai oleh teman-temanku.

Saat aku menutup mata, aku ingat tentang Raga. Dia anak basket yang sangat terkenal disekolahku. Tingginya 180 cm, mukanya ganteng, senyumnya maniiiis banget, permainannya pun sangat jago. Pokonya dia cowok yang sangat aku sukai sejak masuk sekolah.

Waktu itu saat upacara penerimaan murid baru, aku segaja datang lebih awal supaya tidak telat. Pada saat itu, aku melihat ada orang yang sedang main basket dilapangan basket. Aku sangat kagum dengan permain orang itu karena sangat indah sekali dan sejak saat itu aku mencari tahu tentang dia. Akhirnya aku tahu kalau namanya Raga, dia anak kelas sebelas dan dia sekarang menjadi kapten tim basket disekolahku.

Sampai sekarang aku tidak akan lupa peristiwa itu walaupun sudah setengah tahun sejak kejadian itu.

Oh iya, kenapa tidak terpikirkan olehku.

Akukan bisa masuk ke tim basket putri, selain nanti bisa main basket juga bisa ketemu Raga deh, kaya pepatah menyelam sambil minum air.

“Pokoknyaaaaaaa, aku akan ikut ekskul baskeeeeeeeeeeeeeet!!!!”

“Bintaaaang, kamu kenapa teriak-teriak?”

“Engga ada apa-apa, miii!”

“ya ampun, sangkin senangnya aku teriak-teriak, tapi engga masalah ah yang penting aku senang sekarang”

Aku pun loncat-loncatan dikasur.

***

“Mami,papi. Viah ingin bilang sesuatu” kataku memberanikan diri untuk minta izin untuk diperbolehkan masuk ekskul basket saat makan malam.

“Kamu mau bilang apa bintang? coba katakan pada papi!”

“Begini pi, nantikan pelajaran olahraga mau ambil nilai three point pada semester ini”

“Lalu apa masalahnya, sayang?”

“Masalahnya boleh enggak bintang ikut ekskul basket” kataku yang membuat semua anggota keluargaku kaget.

“Apa ikut ekskul basket???? Mami engga setuju”kata mami marah.

“Tapi ma, bintang kan enggak bisa main basket nanti nilai bintang jadi jelek”

“Pokoknya mami engga setujuh!!”

“Tapi, papi setujukan?”kataku kepada papi yang kelihatannya masih bengong.

“Bintang, mau ikut eskul basket. Bola sama orangnya aja besaran bolanya”

“K’k Riiiiiiiiiiiiian”

“Rian jangan ledeki ade mu?” Kata papi membelaku

“Papi, boleh yaa?”

“Baiklah, papi izinkan”

“Makasih pi, papi memang orang paling baik sedunia”kataku menghampiri papi dan mencium pipinya.

“Papi, kenapa diizinkan?” kata mami kesal.

“Kenapa tidak, nantikan anak papi bisa tinggi”

“Papi jahat!!” kataku marah

“Papi bercanda”

“Ada apa sih? Ribut banget” kata ade sambil duduk.

“Kamu ini baru turun, dari tadi ngapai?” kata mami marah sama ade dan semua pada ketawa dan ade hanya celingukan karena bingung. Ade adalah adikku satu-satunya dia sekarang kelas dua SMP. Dia sangat cantik dan tingginya 163 cm, pokoknya sangat beda sekali denganku. Malah banyak orang yang menyangka kalau ade adalah kakakku. Tentu saja banyak yang berkata seperti itu karena saat jalan bareng dengan ade aku kelihatan seperti adiknya karena tinggi badanku yang sangat pendek. Dan lebih parahnya lagi kalau jalan sama kakak Riyan, teman-temannya bilang,”Riyan, nyolong anak SD dari mana?”. Pokoknya sangat sengsara deh punya badan pendek. Semua orang memandangku aneh sampai-sampai mama juga memperlakukan aku kaya anak SD.

***

“Pagi bintang”

“Pagi juga Dola”

Aku pun menaru tas ku dibangku dan Dola yang duduk disebelah bangkuku pun langsung tersenyum.

“Kayaknya, pagi ini temanku ini lagi seneng banget nih. Cerita dong!”

“Iya nih hari aku lagi gembira banget, la”

“Emangnya ada apa?”

“Hari ini aku berniat akan ikut ekskul basket, ya walaupun sudah agak telat”

“ Apaaaaa?ikut ekskul basket!”

“Dola, jangan teriak dong. Jadi pada melihat kesini semua tuh, aku kan jadi malu “

“Maaf ya, tapi tadi kamu bercandakan?”

“Siapa yang bercanda, aku serius tahu”

“Kamu sakitnya?”

Dola pun memegang dahiku untuk disamakan panasnya dengan dahinya.

“Dola, aku ini engga sakit”

“Atau mungkin otak kamu kegesernya”

“Dola,apa-apa sih. Pokoknya nanti istirahat aku minta kamu temani aku”

Tapi Dola hanya diam saja, mungkin dia masih enggak percaya dengan ucapanku tadi.

***

“Dola, cepatan”

“Iya, sabar dong, bintang”

Aku pun lari menuju lapangan bersama Dola dimana terdapat anak-anak basket sedang bermain.

“Itu dia, tapi aku engga kelihatan” kataku ketika sampai dilapangan karena banyak siswi-siswi lain yang pada mengerubung dipinggiran.

“Bintang, sebaiknya kita menerobos aja ya supaya bisa kelihatan”

“Tapi, penuh banget Dola. Bagaimana cara?”

“Kamu ini payah banget sih, kamukan kecil pasti gampang”

“Tapi la, aku engga bisa”

“Sini”

Lalu Dola mengandengku untuk menerobos agar dapat melihat lebih jelas. Akhirnya kami masuk barisan depan.

“La, kelihatan. Tapi disini berisik banget” kataku dengan sedikit berteriak karena semua orang disini pada berteriak. Mereka pada menyeriaki nama Raga. Hari ini tim basket sekolahku sedang bertanding dengan tim basket sekolah sebelah jadi banyak anak-anak yang belum pulang untuk melihat pertandingan basket dan terutama untu melihat Raga karena dia disini sangat popular.

“Bintang, lebih baik kamu bicaranya nanti setelah pertandingan basket”

“Iya la, sebaiknya kita sekarang nonton aja pertandingannya”

Kami pun menonton pertandingan basket. Aku pun ikut berteriak saat menontonnya, habis pertandinganya seruh banget. Tapi yang lebih membuat aku kagum yaitu permain Raga yang sangat mempersona. Apalagi saat tembatkan three pointnya. Tembakannya itu sama seperti waktu pertama kali aku melihatnya. Dia memang sangat terkenal dengan tembakan three pointnya. Akhirnya tim basket putra sekolahku pun menang tapi tim basket putrid sekolahku kalah.

***

“Bintang, cepatan sana nanyanya”

“sabar dong,la”

Aku pun menghampiri segerombolan anak-anak basket putri dengan kaki gemetaran.

“permisih kakak!”kataku dengan jantung deg-deg kan

“ya,ada apa?”kata salah satu anggota basket dengan nada sinisnya.

“kak, saya ingin mendaftar menjadi anggota basket putrid, boleh?”

“apa katamu ingin jadi anggota kita?”katanya lanjut dengan nada mencela.

“eh, lo engga lihat apa tadi kita itu kalah. Apalagi ada lo pasti tambah hancur”kata salah satu anggota yang memegang handuk

“anak kecil, lebih baik pulang aja kerumah cuci kaki lalu tidur” kata cewek yang memegang air minum. Lalu anggota yang lain pada tertawa dan aku hanya diam sambil menahan air mataku. Saat aku ingin pergi karena tidak tahan dihina seperti itu, tiba-tiba ……

“kalian apa-apa sih mengertawakan orang” kata seseorang yang ada dibelakangku. Lalu aku pun membalik badan ku. Aku pun sangat kaget karena orang yang ada dibelakangku itu raga.

“Itu ga, ada yang mau daftar jadi anggota baru. Tapi gw pikir lebih baik dia pulang karena anak kecil kayak dia engga dibutuhkan disini” kata cewek tadi.

Ya ampun Raga ganteng banget baru pertama kali aku lihat dia dari dekat. Tapi cara pandang Raga engga wajar banget deh karena dia itu lihat aku dari ujung kaki sampai ujung rambut yang membuat aku deg-deg kan habis bisa dibilang jantung ini rasanya mau copot.

“Benar kamu mau daftar jadi anggota basket?” katanya dengan gaya cool.

“Iya, aku mau daftar jadi anggota basket” kataku dengan suara yang dipaksa untuk datar.

“Kamu tahu, kalau sekarang udah telat?” dengan suara yang lebih sinis. Aku kira dia akan bela aku, eh malah ikut dimarahi.

“Iya, aku tahu”

“Kalau tahu, kenapa masih mau daftar?”

“Masalahnya ambil nilai semester dua nanti itu tembakan three point, selain itu juga aku ingin banget bisa main basket” kataku dengan agak polos.

“Benar kamu ingin gabung?”

“Kalau enggak ingin gabung ngapai aku kesini, malah pakai acara dimarahi segala lagi?”

Ooopss! aku keceplosan.

“Ahhh aaaahhhhh” tawaknya meledak kayak orang dikelitik tapi tetep ganteng.

“Iya, udah. Mara mulai besok dia akan bergabung dengan kalian” Raga berkata kepada cewek yang menggang air minum tadi.

“Tapi ga, mana bisa dia bergabung dengan kita. Lihat aja badannya cebol gitu” kata cewek yang namanya Mara itu dengan memandang sinis ke aku. Sialan tuh orang masa ngatain aku cebol kalau disini engga ada raga pasti itu orang udah aku tonjok sampai bonyok, tapi sebelum itu aku ambil bangku dulu habis mereka tinggi-tinggi banget. Lalu terdengar kata ………

“Terserah kata lo, yang penting dia besok bergabung dengan kalian” kata Raga lalu memalingkan wajahnya dan berbalik pergi. Lalu dia berbalik lagi sambil berkata “Oh ya, nama kamu siapa?” Tanyanya ramah.

“Nama aku bintang, aku kelas x.1”

“Kalau begitu selamat bergabung, bintang” lalu dia berbalik pergi lagi.

Aku pun senyam-senyum sendiri, lalu … …

“Lo, jangan senang dulu deh. Lihat aja nanti!” kata Mara dengan sinis lalu dia pergi dengan teman-temannya dengan muka belagu gitu deh.

Dari kejauhan terdengar mereka masih marah-marah sama Raga karena membela aku, dan yang lebih parahnya lagi kayanya mereka sedang merencanakan sesuatu deh habis tadi terdengar mereka ngomongi sumpah apa tapi kayanya sumpahi aku deh, tapi aku engga peduli yang penting aku senang.

“Aduh Raga kamu baik banget” kataku sambil jalan menghampiri Dola dikantin, karena dia tadi laper jadi kami janjian ketemu disana.

***

Sebelum aku masuk kantin Dola udah melambai-lambaikan tangan jadi aku tidak perlu mencari dia.

Lalu aku duduk disebelahnya sambil bermuka sedih gitu deh, dan Dola yang melihatnya langsung nanya.

“Kenapa bintang? Kamu tadi diapain sama mereka? Emang mereka itu anak-anak sombong jadi kamu jangan masukan hati. kalau kamu engga diterima engga apa-apa nanti aku bantuin kamu berlatih deh aku janji jadi sekarang kamu jangan sedihnya, kamu mau makan apa? Nanti aku pesenin” kata Dola panjang lebar, emang dasar tuh anak tukang khawatiran tapi walaupun begitu aku sayang dia.

“Enggak kenapa-kenapa kok, la. Malah aku lagi senang sekarang masalahnya … … …” segaja engga dilanjuti biar Dola penasaran.

“Masalahnya apa?” Dola makin curiga.

“Masalahnya … … … aku diterima la, dan itu semua berkat Raga la” kataku riang.

“Apa karena Raga!!!!” teriak Dola tepatnya dia engga percaya.

“La, jangan teriak dong. Kan malu dilihat”

“Sori deh, lagian engga ada orang”

“ Cerita dong, bagaimana Raga bisa bantuin kamu, bintang” lanjut Dola tanpa basa-basi dan aku pun langsung menceritakan semua kejadian tadi yang aku alami sama Dola.

“Yang bener vi, gila kamu hebat banget nanti kenalin aku ya sama Raga”

“Iya, nanti aku kenalin tapi kalau aku sudah akrabnya”

“Kamu emang temanku yang paling baik” kata Dola sambil memeluk aku.

Lalu tiba-tiba datang anggota basket putri yang diketuai oleh Mara jalan melewati aku dan Dola dengan pandangan sinis banget.

“Mereka sinis banget deh” bisik Dola.

“Lebih baik kita balik aja, kayanya udah sore nih” lalu aku mengajak Dola keluar dan Dola nurut aja. Sebenarnya aku bukannya takut tapi emang benar-benar sudah sore dan waktuk menunjukan waktu 03.30 WIB dan aku juga ingin cepat-cepat sampai karena aku ingin kasih tahu mama dan ayah tentang berita bahagia ini.

***

“Assalamualaikum……………” teriakku memberi salam saat masuk rumah. Tapi didalam rumah engga ada orang jadi aku langsung masuk kamarku.

“Brukkk” suara aku menjatuhkan badan ke kasur. Lalu aku membayangkan lagi peristiwa tadi terutam wajah Raga yang cakep itu.

Kruyukkkkk keruyuk bunyi yang aneh terdengar.

“Aduh, kok aku jadi lapar sih. Masa mikirin Raga jadi laper” akupun turun kebawah dan sempat lihat jam dan ternyata sekarang jam empat lewat sepuluh.

“Mi, bintang laper nich”

“Mami, dimana sich!!!” kataku binggung habis sepi banget. Karena sepi jadi aku buka kulkas aja dan ternyata ada bronis dan aku makan aja deh.

“Aduh…!!, bintang kok bronis mami dimakan?”kata mami yang tiba-tiba datang bawa kontung plastik gede banget, kayaknya sih habis belanja.

“Habis, tadi bintang panggil-panggil enggak ada orang. Kan bintang laper nich. Oh ya, itu apa mi? Belanjaannya? Banyak amat belinya?”kataku.

“Oh... ini, itu loh sayang, pakaian basket kamu. Katanya kamu mau ikut eskul basket. Kan kamu harus punya baju basket jadi mami belanja deh. Sini sayang jajal dulu!”kata mami lalu menarik ku ke ruang keluarga.

“Lihat deh sayang, mami beli banyak banget” kata mami sambil mengeluarkan isi kantong belanjaannya. Aku hanya bisa benggo aja melihat isi kantong itu, banyak banget baju basket dengan berbagai model. Tapi kayaknya …………

“Mi, kayaknya bajunya ke gedean deh”kata ku dengan suara agak diperkecil.

“Masa sich!” kata mami sambil melihat baju-baju itu.

“Kayaknya engga deh, coba kamu jajal dulu!” mami menyerahkan baju itu ke aku. Mau engga mau, akhirnya aku bawa dech baju itu keatas untuk aku jajal.

Saat dikamar aku melihat semua baju yang dibeli sama mami dan mencocokan kebadanku. “Aduhhhh, kayaknya ini baju emang gede banget dech”.

“Tapi, aku jajal dulu dech”

Akhirnya aku menjajal baju tersebut dan ternyata. Benar ini baju gede banget, badan aku rasanya mau kekelep.

“Mamiiiiiii, bajunya kegedean” teriakku sambil lari-lari keruang tamu dimana mami masih sibuk dengan baju basket model yang lainnya.

“Mi, lihat dech bajunya gede banget”kataku sambil muter-muter didepan mami. Tapi mami cuma diam aja sambil melihati ku.

“Mi, kok benggo gitu sich!”

“Iya ya sayang, baju itu kayaknya kegedean. Coba jajal yang ini!”

Lalu akhirnya aku menjajal semua baju yang mami beli tapi hasilnya tetap sama SEMUANYA KEGEDEAN.

“Mami, bagaimana sich belinya, masa semuanya kegedeaan” kataku sambil duduk disebelah mami, habis kecapean menjajal semua baju yang mami beli.

“Padahal mami udah beli dipakaian anak umur 13 tahun loh, sayang”

“Apa? Mami beli ditoko baju anak umur 13 tahun. Mi, bintang ini umurnya 16 tahun!”

“Kamu ini, baju anak umur 13 tahun aja masih kegedean apalagi baju anak 16 tahun kamu pasti udah kelelep”

“Mami, pusing nich. Mami mau tidur dulu, nanti aja kita bicarakan masalah baju basket buat kamu kalau papi sudah pulang” tanpa basa-basi lagi mami langsung balik ke kamarnya. Kasihan mami pasti capek banget, sudah belanja banyak tapi semuanya engga ada yang cocok. Aku pun balik kekamarku.

“Kenapanya aku punya badan kecil kayak gini?”

“Ooh, cermin katakan sesuatu!”

“Aku ini kayak orang gila aja ngomong sama cermin”

Akupun terdiam lama didepan cermin, sambil menatap wajah yang tak asing kulihat, wajah itu tak lain diriku sendiri yang sedang menatapi nasib sendiri.

***

“Mami, kenapa?kok lesu banget”kata papi saat sedang semua anggota keluarga sedang nonton tv.

“Tadi mami beli baju buat bintang tapiiiii”mami tidak melanjutkan ucapannya.

“Tapi kenapa?”

“Coma kamu jajal baju yang tadi bintang?”suruh mami kepada ku yang sedang nonton tv (pura-pura enggak denger gitu dech).

“Baju apa?”

“Baju yang tadi siang mami beli, coba kamu jajal lagi!”

“Iya, bintang jajal lagi”

Aku pun langsung naik ke atas dengan perasaan takut banget habis pasti pada ketawa semua apalagi kakak Rian pasti dia yang paling gede ketawanya.

“Baju apaan mi?”tanya kakak rian dari bawah.

“Aduh, pasti diketawai. Terutama kakak rian. BETE!!!” kata ku yang mengerendeng sendiri sambil pakai baju yang kegedean itu.

Setelah selesai pakai baju akupun langsung turun dengan perasa yang engga karuan. Aku berharap tangga yang aku injak ini jumlahnya ada 100 tapi nyatanya cuma ada 21 anak tangga dan sekarang aku ada ditangga terakhir dan yup aku sekarang ada diubin.

“Mi, pi” sapa aku.

Semua orang dirumahku langsung pada melihat kearah aku. Hati ku jadi deg-deg kan.

“Mi, enggak salah beli bajunya” kata kak rian sambil ketawa gitu deh.

“Mami, pikir bakalan muat, eh tahunya kegedean”

“Coba papi lihat!” kata papi lalu aku langsung menuju papi dengan langkah mau enggak mau gitu deh.

“Pi, bintang kayak badut ya?” Tanya aku sedih.

“Iya, bintang. Kamu udah kayak badut kecil. Mirip banget” ledek kak rian.

“Pi, kak rian tuh ledekin melulu”

“Rian, kamu iseng banget, ade kamu itu enggak mirip badut tapi mirip ubur-ubur”

“Papi, jahat masa bintang dikatai ubur-ubur sih, emangnya apa hubungannya bintang pakai baju ini sama ubur-ubur” kata aku kesal.

“Habis papi lihat bintang kayak lihat ubur-ubur”.

“Papi jahat”

“Iya pi, bintang mirip kayak ubur-ubur” lanjut kakak rian

“Kakak riaaan”

“Riaaaan, jangan usil sama ade kamu!”

“Papi duluan juga yang ngatai bintang kayak ubur-ubur”kakak rian sewot.

“Papi sama kakak rian sama aja, sama jahatnya” kataku kesel.

“Aduh ubur-uburku, eeehhhh salah bintangku”kata papi.

“Papi jahat”kataku sambil nangis.

“Nalu-nalu papi chahat bintang cadi nangis”ledek kak rian

“Tahu nih papi, kak bintang jadi nangis tuh, jadi enggak kedengaran nih. Ade lagi nonton nih”kata ade.

“PAPI, jahat banget sih masa anaknya dikatai ubur-ubur. Emang mirip sih”kata mami yang ingin belain tapi malah ikut ngataiin lagi. Aku makin kenceng nangisnya. Akhirnya semua pada kebinggungan karena aku nangis makin gede. Tapi akhirnya bukan dibuat aku berhenti nangis, eh malah diketawain. SEBEL SEBEL, BETE DEH.

***

“Pagi bintang” sapa Dola dan langsung duduk disebelah aku.

“Pagi juga dola” balas sapa ku dengan suara lemas.

“Bintang kenapa? Bintang sakit ya? Atau gugup karena hari ini, hari pertama bintang ikut ekskul basket?” tanya Dola panjang lebar.

“Iya sih bintang gugup, tapi yang membuat aku bete bukan itu”

“Lalu apa?” Tanya Dola penasaran. Emang si Dola ini kerjanya ingin tahu aja tentang aku dia ngefrans kali ya.

“Kemarin bintang dibeliin baju basket sama mami tapi ke gedean, terus bintang masa dikatai ubur-ubur sama papi. Betekan dikatai kayak gitu. Sama papi aja dikatai apa lagi sama anak-anak basket nanti kalau bintang pakai baju basket bintang yang kegedean itu” cerita aku panjang lebar ke Dola.

“APA DIKATAI UBUR-UBUR” teriak Dola.

“Siapa? Yang dikatai ubur-ubur” tanya Yugo teman sekelas aku yang paling iseng sedunia.

“Bukan siapa-siapa kok, mau tahu aja” jawab aku.

“Tadi aku denger loh, bintang dikatai ubur-uburkan sama papi ya” kata Yugo.

“Enggak kok”

“EH TEMEN-TEMEN ADA UBUR-UBUR LOH DIKELAS KITA INI” teriak Yugo yang membuat anak-anak dikelas tanya “siapa ubur-uburnya” dan dengan santai Yugo jawab “Bintang loh ubur-uburnya, jadi kalau panggil bintang jangan bintang tapi ubur-ubur”.

“Yugooooooo” teriak aku.

“Dola sih, Yugo jadi denger tuh”

“Maaaaaffff bintang” Dola minta maaf dengan muka agak melas gitu deh, jadi aku enggak bisa marah deh dan akhirnya aku maafin Dola. Tapi aku enggak terima dikatain UBUR-UBUR.

***

Dengan langkang berat dan hati tidak enak aku melangkah keruang ganti anggota basket putri, tempat dimana anak-anak basket putri berkumpul, sehabis pulang sekolah.

“Tok tok, permisih” aku mengetok pintu lalu masuk keruangan tersebut.

Disana aku lihat anggota basket putri dari yang anggota kelas sebelas maupun yang masih kelas sepuluh.

Lalu kakak Mara datang menghampiri aku dan dia langsung berkata “Hai teman-teman kenalin anggota baru kita, sih cebol” pengumuman Mara kepada anggota basket yang lain, dan anggota basket yang lain terutama anak kelas sebelas pada ketawa mendengar pengumuman itu.

“Kak, aku punya nama. Nama aku bintang bukan sih cebol” kata aku kesal.

“Sama aja kan” kata kakak Mara dengan mendekatkan mukanya ke muka ku sehingga aku dapat melihat muka dengan jelas.

Let’s go guys” katanya kepada kelima teman geng ya dengan angkuhnya dan mereka pun langsung pergi meninggalkan ruangan.

“Udah bintang jangan dengerin omongan kakak mara, dia orangnya emang kayak gitu” kata cewek yang berambut ikal.

“Oh…ya nama aku chistin, salam kenal ya” kata cewek tadi memperkenalkan dirinya.

“Aku bintang”

“Iya, aku udah tahu. Kalau yang rambutnya pendek namanya desi, lalu sebelahnya rira, lalu yang berdiri didekat roker itu namanya imel” kata chistin memberitahu nama-nama anggota basket yang lain.

“Oh………, salam kenal juga”

“Bintang, mendingan kamu ganti baju dulu. Kita duluan kelapangan ya” kata chintin. Lalu anak basket yang lain ikut keluar. Aku pun lansung ganti baju tapi sebenarnya aku males ganti baju habis baju aku gede banget, aku takut dikatai ubur-ubur lagi, tapi kan mereka enggak tahu kalau aku dikatai ubur-ubur dikelas. Akhirnya aku ganti baju dan setelah ganti baju aku langsung kelapangan dengan pedenya.

“Hai……” sapa aku ketika sampai dilapangan yang membuat orang-orang dilapangan pada tegok kearah aku dan…………

“Haaaa haaahhhhhh” ketawa semua orang yang ada dilapangan. Aku binggung banget kenapa semua orang pada ketawa melihat aku. Lalu kakak Mara menghampiri aku sambil berkata “Bintang, enggak salah kamu pakai baju itu, kamu mirip ubur-ubur” lalu yang lain pada ketawa.

“APA AKU MIRIP UBUR-UBUR”

“Iya, kamu mirip ubur-ubur, ya kan teman-teman” lalu yang lain pada kata setuju gitu deh. Aku binggung aku mirip apanya dengan ubur-ubur. Lalu aku bayangi diri aku dan aku bandingkan dengan ubur-ubur tapi aku beda dengan ubur-ubur tapi semua orang bilang aku mirip ubur-ubur ya.

“AKU ENGGAK MIRIP UBUR-UBUR” teriak aku

“KAMU ITU MIRIP UBUR-UBUR” teriak kakak mara enggak kalah kencang, lalu …………

Ada apa sih, berisik banget” kata Raga yang tiba-tiba datang yang membuat kakak mara dan yang lainnya kaget dan aku juga ikut kaget.

“Ini loh ga, ada ubur-ubur” kata mara sambil ketawa-tawa.

“TAHU ENGGAK KAMU ITU BERISIK” teriak Raga yang membuat kakak mara kaget.

“KOK, LOE BENTAK GW SIH” balas kakak Mara enggak kalah kencang.

“Mau tahu?” Tanya Raga.

“ITU KARENA LOE GANGGU KONSENTRASI GW” teriak Raga lagi.

Aku kaget banget mendengar ucapan Raga, ini pertama kalinya aku lihat Raga marah-marah kayak gitu, jadi aku teriak aja.

“UUUUDAAAAH, JANGAN BERANTEEEEMMM” teriak aku sekencang-kencangnya yang membuat semua orang yang ada dilapangan melihat ke aku, termasuk Raga. Tapi Raga enggak bilang apa-apa, dia hanya menatap aku terus pergi keluar lapangan. Kakak Mara yang kesal sama Raga menglibaskan kekesalannya ke aku. Aku enggak latihan basket sama sekali, aku hanya disuruh pus up 30 kali, sit up 30 kali, dan lari mengelilingi lapangan sebanyak 30 kali juga. Selain itu aku disuruh-suruh ambilin bola yang berlarian keseluruh pejuru lapangan karena dilempar-lempar anak-anak basket putrid. Lengkap sudah penderitaan aku hari ini, udah dikatain juga disuruh-suruh. Badan aku rasanya remuk semua jadi aku putuskan untuk pulang sehabis eskul basket. Sampai dirumah aku langsung tidur. Rasanya enak banget tidur dikasur. Empuuuukkk…………

***

“HAAA……AAAA” teriak aku ketika melihat jam.

“AKU TELAAAATTT”

Aku langsung siap-siap karena udah jam setengah jutuh, dan aku belum berangkat. Bisa-bisa nanti aku enggak dibukain gerbang nih. Aku langsung ngacir saat udah selesai tepatnya jam tujuh kurang sepuluh menit. Aku terpaksa naik jekman (maksudnya tukang ojek loh) kalau enggak aku enggak sampai. Jekmannya keren banget naik motornya, mungkin dia mantan pembalap kalinya. Aku kayak mau terbang, wessss wessss mungkin begitu bunyinya.

Apalagi saat jalanan lurus bunyinya enggak wesssss lagi, malah enggak ada bunyinya sangkin kencengnya. Tapi yang lebih keren saat mau belokan udah kayak Valentino Rossi lagi balap pembalap yang lain, pokoknya jekman ini bisa ngalahin Valentino Rossi dech, motornya aja Yamaha Jupiter Z, bagaimana enggak kenceng?

Aku sampai tepat jam setengah delapan kurang tiga menit.

“Paaaakk, pak renov jangan ditutup dulu” kata aku sambil lari-lari. Pak Renov adalah satpam sekolah. Namanya kerennya, orangnya gaul lagi. Apalagi kumisnya, enggak tahaaaaaaan, tebel man.

“Pak, jangan ditutup dulu dong” kata aku ketika sampai gerbang.

“Maaf, non bintang. Udah waktunya gerbang ditutup”

“Emangnya, sekolah masuk jam berapa?” Tanya aku

“Jam setengah delapan” jawab

“Sekarang jam berapa?”

“Jam setengah delapan kurang dua menit” katanya sambil lihat jam

“Berarti aku masih punya waktu dua menitkan?”kataku sambil senyum dan langsung masuk melalui selah kecil, maklum tubuh akukan kecil baget.

“Daaahhhh, pak renov” kataku sambil melambaikan tangan lalu aku berjalan dengan santai menuju gedung sekolah, tapi tiba-tiba aku lihat Mr Indra guru bahasa inggris aku lagi jalan dilantai dua. Sekolah aku itu berlantai tiga dan kelas aku ada dilantai tiga, selain itu juga aku harus menyebrangi lapangan dulu sebelum sampai gedung sekolah. Aku jadi gelisah sendiri habis kalau telat masuk pasti disuruh nyanyi pakai bahasa inggris plus joget begitulah perjanjian yang dibuat anak-anak dikelas aku dengan Mr Indra dan udah disepakati. Aku enggak mau dihukum, jadi otak ku pun berputar dan ide pun muncul.

“Mr Indraaaaaaaaaa, wait meeeeeeeeeee” teriak aku sambil lari.

Mr Indra langsung melihat kearah aku, mungkin dia kaget ada yang teriak panggil namanya maklum suara aku nyaring sekali walaupun badan aku kecil.

“Bintang, what are you doing in there?”

Aku enggak jawab Cuma senyum doang, dan terus lari. Saat aku sampai dilantai dua, aku lihat Mr Indra masih berdiri ditempat diberdiri tadi.

kenapa kamu teriak tadi?”

heeee, saya telat mr dan saya enggak mau dihukum jadi saya teriak dech”sambil cengar-cengir.

“WHAT”

Dan tiba-tiba mr indra lari dan aku pun ikut lari, kami jadi kejar-kejaran kayak kucing dan tikus Cuma bedanya sekarang tikus yang kejar kucing deh.

maaf kamu telat” kata mr indra saat sampai didepan kelas duluan.

bagaiman mr enggak duluan kaki mr kan panjang”

“tapi, kamu tetap telat, jadi kamu dihukum”

Akhirnya aku dihukum nyanyi lagu pussycat dolls yang don’t cha sambil joget-joget tapi nyanyinya Cuma don’t cha doang habis enggak hafal.

***

“Bintang, kenapa telat tadi”kata Dola sama aku yang sekarang sedang jalan ke kantin.

“Bagaimana enggak telat, badan bintang sakit semua”ngeluh aku.

“Gitu aja dah ngeluh”

“Bukan ngeluh, tapi ini emang kenyataan”

“Iya udah jangan nangis dong”

“Sapa yang nangis” kata aku sewot mendengar ucapan Dola

“Maaf dech”kata Dola sambil senyum nakal

“Hallo bintang, idola” kata anak cowok yang lagi duduk-duduk sama teman-temannya saat kami lewat.

“Bukan bintang dan idola tapi sang idola dengan teman kurcacinya” kata yang temannya yang duduk disebelahnya lalu mereka tertawa. Aku panas lalu aku jawab “siapa yang kurcaci?”

“Aduh gawat kurcaci marah nanti gw didatengi temen-temen kurcacinya lagi” kata cowok itu lagi.

“Salah bukan kurcaci tapi ubur-ubur”kata seseorang dibelakang aku

“Yugooo” teriak aku saat tahu yang bicara itu yugo

“APA-APAAN CICH YUGO ENGGAK LUCU DECH” bentak aku

“Emang benarkan, kamu ini mirip ubur-ubur”kata yugo sambil senyum ngejek.

“YUGOOO” teriak aku lagi. Yugo itu teman aku dari SMP, dia selalu mengataiku ubur-ubur. Aku aja enggak ngerti kenapa dia selalu mengataiku ubur-ubur, padalah aku enggak mirip ubur-ubur.

“ubur-ubur jangan teriak-teriak ya….!!”kata yugo sambil ngelus pala ku. Emang sich dia itu tinggi banget, keren, lumayan banyak fans nya tapi dia itu enggak suka olahraga seperti Raga, Yugo lebih senang ada di labotorium, enggak tahu ngapain aja tuh anak.

“Yugo ngebelin”

“Biarin … … … “

“Udah-udah kalian itu berantem terus”kata Dola

“Orang yang ngatain bintang aja udah ilang dari tadi”lanjut Dola.

“Oh… iya udah enggak ada”kata aku sambil aneh sendiri karena ternyata mereka yang tadi udah pada pergi.

“Ya udah aku pergi dulunya Dola end ubur-ubur … … …”kata yuga sambil pergi.

“PERGI SANA JAUH-JAUH ………!!!!!!”

“Udah jangan marah-marah! Mendingan kamu siap-siap latihan, kamu masih mau jadi anggota basket kan?”Tanya Dola.

“ya… lah…”

Akhirnya aku pergi latihan basket tapi hasilnya tetap sama aja sama yang kemari, aku hanya disuruh pus up 30 kali, sit up 30 kali, dan lari mengelilingi lapangan sebanyak 30 kali juga.

***

Hari-hari selama satu bulan tidak ada perubahan sama sekali, sama terus. Setiap hari aku harus naik jekman, lari-lari ngejar guru, pulang sore, sering dihukum guru enggak ngerjai PR, end yang lebih parahnya lagi aku enggak pernah di ijinin maen basket aku hanya disuruh pus up 30 kali, sit up 30 kali, dan lari mengelilingi lapangan sebanyak 30 kali gitu terus setiap latihan. BT banget dch kalau gini caranya. Udah enggak ketemu Raga end yang lebih parahnya aku enggak bisa-bisa maen basketnya, bagaimana dengan pengambilan nilai aku ya … … … ??.

“Pokoknya aku harus PROTES” kata ku pada Dola dikantin saat makan siang.

“protes?”

“iya la, kalau gini aku enggak bakal sukses nanti ambil nilainya”

“niat nich ambil nilaintya? Aku kira kamu masuk tim basket Cuma mau ketemu Raga?” Tanya Dola.

“Itu alasan kedua la, yang pertamanya ya buat nilai olahraga ku”

“Nilai atau raga?” dola ngeledek aku

MASIH BERSAMBUNG NICH…

Read Users' Comments (0)

0 Response to "...3 pOinT..."

Posting Komentar